Komnas Perempuan: Jangan Lupakan Sejarah Kelam Masa Lalu

- Pewarta

Jumat, 31 Maret 2023 - 00:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


SURABAYA, JAWA TIMUR – Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) bersama sejumlah jaringan masyarakat sipil mengumpulkan kisah dan fakta terkait Tragedi Kerusuhan Mei 1998 di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Surabaya. Mereka mengajak semua pihak untuk tidak melupakan sejarah kelam masa lalu dan mencegah hal itu terulang.

Komnas Perempuan menyatakan, memorialisasi ini merupakan bagian dari upaya penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu melalui mekanisme non-yudisial.

Komisioner Komnas Perempuan, Tiasri Wiandani, mengatakan pernyataan maaf negara yang disampaikan Presiden Joko Widodo atas terjadinya pelanggaran HAM berat masa lalu, harus ditindaklanjuti melalui langkah yudisial maupun langkah non-yudisial.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia mengatakan, dalam Kerusuhan Mei 1998 banyak perempuan menjadi korban kekerasan seksual dan banyak korban tewas. Tiasri menegaskan memorialisasi ini penting dilakukan sebagai tindakan paling nyata dari mekanisme non-yudisial untuk meluruskan sejarah dan memastikan generasi mendatang tidak mengulangi peristiwa itu.

“Kita mencoba untuk memasukkan peristiwa Mei 1998 ini bagian dari sejarah kelam yang tidak dilupakan, tetapi ini mengajak publik untuk mari bicara kebenaran. Dan untuk memastikan ini menjadi bagian dari sejarah yang dikenali oleh generasi kita selanjutnya. Tujuannya apa? Bukan kita ingin mengorek luka lama, tetapi ini bagian dari pengetahuan sejarah untuk memastikan kasus itu tidak berulang,” jelas Tiasri Wiandani.

Tiasri berharap pemerintah daerah turut berperan aktif dalam mendukung upaya pemerintah pusat menyelesaikan pelanggaran HAM masa lalu lewat jalur non-yudisial, dengan memfasilitasi pembuatan penanda peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi.

Senada dengan Tiasri, Ketua Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia, (IKOHI) Jawa Timur, Dandik Katjasungkana, mendukung adanya upaya mengingat peristiwa kelam pada saat sebelum dan setelah terjadinya reformasi. Penanda itu, kata Dandik, dapat berupa monumen, penulisan kembali buku sejarah yang benar tentang kasus pelanggaran HAM masa lalu, dan pembuatan film dokumenter. Semua itu, katanya, bisa menjadi media edukasi bagi generasi masa kini dan yang akan datang.

“Kita mau membangun bangsa ini lebih beradab di masa kini maupun masa depan, itu kan titik pijaknya kan dari kesalahan masa lalu. Kalau ini tidak pernah diakui sebagai kesalahan, tidak hanya diakui tetapi juga diselesaikan dengan baik, ya kita akan mengulang terus kejadian-kejadian kejahatan HAM di masa lalu itu akan terulang kembali di masa depan,” jelas Dandik Katjasungkana.

Penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat masa lalu melalui jalur non-yudisial, lanjut Dandik, adalah upaya pemerintah untuk meredam kekecewaan korban dan a keluarganya yang selama ini terabaikan hak-hak mereka sebagai warga negara. Pendekatan non-yudisial ini menurutnya perlu didukung dengan pemenuhan hak-hak dasar korban dan keluarganya, khususnya di bidang sosial ekonomi.

Sementara itu, Sonya Claudia Siwu, ketua Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) Universitas Surabaya, menyebut pembentukan Penyelesaian Pelanggaran HAM (PPHAM) melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 17 Tahun 2022, merupakan salah satu langkah pemerintah menyelesaikan pelanggaran HAM berat masa lalu.

Sonya yang sempat terlibat dalam tim asisten PPHAM, telah melakukan pendataan dan pendalaman kebutuhan dasar dari korban beserta keluarganya, sebagai rekomendasi bagi pemerintah untuk dilaksanakan melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2023. Hak terkait kependudukan, jaminan kesehatan, serta pemberdayaan dan peningkatan ekonomi, menurut Sonya, adalah kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi oleh negara.

“Secara umum mereka semua minta pemerintah menjamin hak mereka sebagai warga negara, yang utama adalah jaminan kesehatan, kemudian pendidikan, dan peningkatan usaha mereka untuk perkembangan ekonomi mereka. Artinya, mereka harus diberdayakan untuk berkelanjutan supaya keluarga ini, keluarga-keluarga korban ini kan mereka kondisinya minim ya, kebanyakan, mayoritas seperti itu. Jadi, mereka minta perhatian khusus dari pemerintah,” jelasnya. [pr/ab]
[ad_2]

Berita Terkait

Jalan Panjang Menjaga Harga Beras, Bantuan Pangan Jadi Tumpuan
Mencegah Penimbunan, Bulog dan Pemda Kawal Distribusi Beras SPHP Nasional
Indonesia Menuju APBN Sehat: Prabowo Tawarkan Jalan Tanpa Defisit
Misteri Kematian Diplomat Muda: Prabowo Serukan Penyelidikan Menyeluruh
Mohamad Riza Chalid Bebas, Rakyat Cuma Bisa Teriak di Medsos
Topan Ginting Tersandung Senpi & Suap, Bobby Nasution Angkat Suara!
Uhud Tour di Balik Kasus Haji? KPK Dalami Peran Khalid Basalamah
Polemik Chromebook 2019–2022: Nadiem Dipanggil, Kajian Teknis Diduga Direkayasa untuk Menangkan Vendor Tertentu

Berita Terkait

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 07:59 WIB

Jalan Panjang Menjaga Harga Beras, Bantuan Pangan Jadi Tumpuan

Rabu, 20 Agustus 2025 - 13:53 WIB

Mencegah Penimbunan, Bulog dan Pemda Kawal Distribusi Beras SPHP Nasional

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 07:50 WIB

Indonesia Menuju APBN Sehat: Prabowo Tawarkan Jalan Tanpa Defisit

Sabtu, 26 Juli 2025 - 10:07 WIB

Misteri Kematian Diplomat Muda: Prabowo Serukan Penyelidikan Menyeluruh

Jumat, 18 Juli 2025 - 09:30 WIB

Mohamad Riza Chalid Bebas, Rakyat Cuma Bisa Teriak di Medsos

Berita Terbaru