kLINGKARIN.COM‐ Banyak pihak, termasuk IMF dan Bank Dunia, memperkirakan ekonomi dunia tahun 2023 akan melemah.

Perkiraaan ini sudah disampaikan sejak beberapa waktu yang lalu. Artinya bukan perkiraan mendadak.

Bahkan resesi mungkin tidak terelakkan bagi sebagian negara di dunia, baik negara maju maupun negara berkembang.

Resuffle Kabinet Indonesia Maju, Ma’rif Amin: Tunggu saja. Kalau Presiden Mau Pasti Ada Tak Penuhi Rasa Keadilan di Masyarakat, Kejagung Banding atas Putusan Sidang Kasus Minyak Goreng

Namun demikian, pemerintah dan DPR masih sangat optimis terhadap perekonomian Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi 2023 ditetapkan 5,3 persen di dalam UU APBN tahun 2023, yang disahkan dan disetujui oleh DPR pada 29 September 2022, dan diundangkan oleh Presiden Jokowi pada 29 Oktober 2022.

Pada konferensi pers tentang APBN (Kita) tanggal 20 Desember 2022, Kementerian Keuangan mengatakan ekonomi Indonesia 2023 masih sangat kuat meskipun ada ancaman resesi dan, tentu saja, perang Rusia-Ukraina.

Sandiaga Uno Disebut Bakal Hadir dalam Silaturahim Akbar PPP DIY di Yogyakarta Pelaku Penggelapan Sepeda Motor yang Dibungkus Kain Kafan oleh Warga Akhirnya Dievakuasi Polisi

Sri Mulyani memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023 akan berada pada kisaran 5 persen.

Artinya, ekonomi 2023 dalam keadaan baik-baik saja, tidak ada kondisi yang mengkhawatirkan.

Perkiraaan pertumbuhan ekonomi 2023 sebesar 5 persen ini setara dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun, yang juga mencapai 5 persen, selama lima tahun pertama Jokowi berkuasa, 2015-2019.

Buat Kader Partai Ingin Tinggalkan Partai Gerindra, Prabowo Subianto Sampaikan Pesan Ini Pak Presiden, Blok Rokan Bukan Hadiah Namun Diperoleh Pertamina Melalui Tender

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Febrio Kacaribu bahkan mengatakan ekonomi Indonesia akan tumbuh kuat di tahun 2023 dan 2024.

Menurut Febrio, kuatnya pertumbuhan ekonomi ini hasil dari transformasi ekonomi dalam menciptakan nilai tambah.

Melalui hilirisasi, meningkatkan ekspor, yang pada akhirnya membuat pertumbuhan ekonomi menguat.

Dapatkah Presiden Jokowi Dimakzulkan Akibat Perppu Cipta Kerja? Ini Jawaban Pimpinan DPR Reshuffle Kabinet Indonesia Maju Makin Nyata, Jokowi Beri Sinyal dalam Waktu Dekat

Selain itu, Febrio juga sangat yakin pemerintah dan Bank Indonesia mampu menjaga inflasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sehingga dapat menjaga pertumbuhan konsumsi domestik dan ekonomi.

“Dengan demikian, kita punya ruang, pemerintah dan masyarakat mendorong potensi pertumbuhan yang masih terlihat cukup kuat di Indonesia.”

Nasdem Beri Keterangan Resmi Usai Johnny G Plate Dikabarkan Mundur dari Jabatan Menteri Kominfo Demokrasi Politik di Era Reformasi Berjalan Sayangnya Oligarki Ekonomi Mengendalikan Politik

“Bukan hanya 2023 tapi untuk 2024, dan seterusnya,” jelas Febrio, seperti dikutip dari CNBC.

Pernyataan optimisme Kementerian Keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi 2023 ini disampaikan pada 20 Desember 2022, hanya 10 hari menjelang ditetapkan PERPPU Cipta Kerja.

Kementerian Keuangan pada hakekatnya menyatakan bahwa ekonomi Indonesia 2023 (dan 2024) dalam keadaan baik-baik saja.

Artinya, tidak ada “kegentingan yang memaksa” yang dapat dijadikan dasar untuk menetapkan Peraturan Presiden Pengganti Undang-Undang atau PERPPU Cipta Kerja.

Sehingga, artinya, penetapan PERPPU Cipta Kerja tidak sah.

Dalam pembelaannya, Menteri Polhukam Mahfud MD mengatakan bahwa penetapan status “kegentingan yang memaksa” merupakan hak subyektivitas presiden, yang tersirat seolah-olah bisa sesukanya.

Maka itu, pembelaan Mahfud MD ini justru bisa berakibat fatal, karena menunjukkan sifat otoriter.

Mahfud MD seharusnya paham bahwa hak subyektivitas presiden tersebut tentu saja harus masuk akal, bukan asal-asalan atau akal-akalan.

Kalau hak subyektivitas presiden tersebut diterjemahkan menjadi hak “semau gue”.

Di mana tidak ada kegentingan yang memaksa dipaksakan menjadi ada, maka hak subyektivitas tersebut menjelma menjadi otoriter.

Oleh karena itu, DPR tidak ada pilihan lain kecuali wajib menolak PERPPU Cipta Kerja yang terindikasi kuat bersifat otoriter.

Oleh: Anthony Budiawan – Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies).***