LINGKARIN.COM – Hasil survei dari Skala Survei Indonesia (SSI) menunjukkan bahwa mayoritas publik yakni sebesar 63 persen menginginkan agar Pemilu 2024 tetap menggunakan sistem proporsional terbuka.

“Mayoritas masyarakat Indonesia, yakni 63 persen masih setuju agar Pemilu 2024 tetap menggunakan sistem proporsional terbuka,” kata Direktur Eksekutif SSI Abdul Hakim sebagaimana rilis yang diterima di Jakarta, Jumat 6 Januari 2023.

Abdul menyebut hanya sebesar 4,8 persen responden yang menyatakan setuju agar Pemilu 2024 diubah menggunakan sistem proporsional tertutup.

Ganjar Pranowo Diteriaki ‘Ganjar Prediden’ di Kemayoran, Siapakah Calon Presiden Pilihan PDIP?

Megawati Sudah Kantongi Nama Capres PDIP, Puan Maharani: Urusan Capres Ada di Garis Tangan

Sisanya, lanjut dia, sebanyak 32,2 persen responden menjawab tidak tahu/tidak jawab/rahasia.

Ia menyebut dari yang menyatakan agar Pileg 2024 tetap menggunakan sistem proporsional terbuka, mayoritas responden yakni sebanyak 19 persen beralasan karena memandang dapat mengetahui/melihat calon-calon legislatif nya.

Soal Positioning Calon Wapres, Pengamat Bandingkan Kekuatan Erick Thohir dan Ridwan Kamil

Perppu Cipta Kerja Berpotensi Cederai Ketundukan Terhadap Hierarki Perundang-Undangan

“(Alasan lainnya) dapat memilih langsung calonnya 17,1 persen, hak rakyat dalam menentukan pilihannya 13,8 persen, lebih transparan/terbuka 12 persen dan masyarakat harus mengetahui calon serta partai yang mereka pilih 6,3 persen,” ujarnya.

Sementara, lanjut dia, dari yang menyatakan setuju agar Pileg 2024 diubah menggunakan sistem proporsional tertutup mayoritas responden yakni sebanyak 27,6 persen beralasan karena memandang pemilu langsung berbiaya mahal.

“(Alasan lainnya) terlalu banyak pilihan 20,7 persen, pemilu menjadi lebih lama 10,3 persen, dan berpotensi money politics 6,9 persen,” paparnya.

Baca juga: Anggota DPR: MK akan tolak uji materi terkait sistem pemilu

Vonis Ferdy Sambo dalam Video Hakim, PN Jaksel: NasDem Ingatkan Hakim Jaga Marwah Pengadilan

Keterwakilan Bisa Lebih Banyak, Prabowo: Gerindra Dukung Sistem Pemilu Proporsional Terbuka

Ia menyebut konstituen partai-partai politik di Indonesia juga mayoritas menghendaki agar Pemilu 2024 tetap menggunakan sistem proporsional terbuka. Adapun, sebanyak 55,6 persen responden menjawab tidak tahu/tidak jawab/rahasia.

Raihan pemilih parpol yang setuju Pemilu 2024 tetap menggunakan sistem proporsional secara berturut-turut yakni PKB (52,2 persen), Partai Gerindra (70,6 persen), PDI Perjuangan (64,1 persen), Partai Golkar (65,4 persen), dan Partai NasDem (60,7 persen).

Kemudian, Partai Garuda (100 persen), PKS (72,5 persen), Perindo (78,6 persen), PPP (39,3 persen), PSI (100 persen), PAN (70 persen), Partai Hanura (100 persen), serta Partai Demokrat (67,1 persen).

Bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana, Prabowo Subianto Beri Penjelasan Begini

Saya Siap Debat soal PERPPU Cipta Kerja, Meskipun Lawan Mahfud dan Yusril Sekaligus

“Melihat data di atas, bisa disimpulkan bahwa sejati nya keinginan mengubah sistem pemilu dari proporsional terbuka menjadi tertutup ini bukanlah keinginan publik. Perubahan ini lebih banyak diinginkan oleh segelintir elite parpol tertentu,” tuturnya.

Dengan memperhatikan aspirasi publik tersebut, ia berpendapat Mahkamah Konstitusi (MK) dalam memutuskan uji materi terhadap Pasal 168 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu (UU Pemilu) tetap mempertahankan keputusan terdahulu yang pernah dibuat yakni pemilu menggunakan sistem proporsional terbuka.

“Keputusan yang sudah pernah dibuat pada tahun 2018 tentang gugatan yang sama, sebaiknya lebih dipertegas kembali untuk terus memapankan arah demokrasi di Indonesia,” kata Abdul.

Bangun Mesjid itu Bagus dan Mulia, Namun Gunakan 1/32 Dana APBD Rasanya Terlalu Banyak

Mantan Politisi PDIP Harun Masiku Berada di Luar Negeri, Ini yang Dilakukan KPK

Survei SSI yang dilakukan pada 6 hingga 12 November 2022 itu dilakukan terhadap 1.200 responden dengan metode penarikan acak bertingkat (multistage random sampling). Survei ini memiliki toleransi atau batas kesalahan (margin of error) sekitar 2,83 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Usia responden yang dijadikan sampel adalah 16 tahun ke atas atau sudah menikah. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara tatap muka secara langsung dengan responden menggunakan kuesioner.***

Klik Google News untuk mengetahui aneka berita dan informasi dari editor Lingkarin.com, semoga bermanfaat.

Pilpres 2024, Publik Ingin Sosok Pemimpin Nasional yang Teruskan Program Presiden Jokowi

Publik Sudah Punya Pilihan Capres Lain, Elektabilitas Jokowi Cuma 15.5 Persen Jika Maju Lagi