Apa itu Generasi Sandwich? Penyebab dan Cara Memutusnya

- Pewarta

Jumat, 3 Februari 2023 - 15:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

[ad_1]

Salah satu diantara sekian banyak permasalahan yang dihadapi oleh generasi muda saat ini adalah membiayai orang tua sekaligus anak dan bahkan adik. Generasi muda yang mengalami hal ini disebut dengan generasi sandwich atau generasi sandwich.

Hal ini merujuk kepada penggambaran sandwich yang berisi sayuran ditumpuk dua roti dan dimakan bersama. Menjadi generasi sandwich bukanlah hal yang mudah, namun bukan berarti tidak bisa ditekan atau diselesaikan. Berikut ini pembahasan mengenai generasi sandwich, penyebab dan cara memutusnya.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengertian Generasi Sandwich

Seperti yang telah disebutkan di atas, generasi sandwich adalah generasi pekerja yang tidak hanya harus menanggung dirinya sendiri, tetapi juga harus membiayai anak dan orang tuanya. Bahkan, tidak jarang mereka juga harus membantu membiayai adik mereka yang masih sekolah.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Dorothy A. Miller, seorang peneliti dari Universitas Kentucky pada penelitian beliau yang terbit di tahun 1981. Umumnya, masalah ini terjadi pada individu yang berusia 30-35 tahun, sudah berkeluarga dan memiliki orang tua yang berusia di atas 60 tahun.

Selain keuangan, hidup sebagai generasi sandwich juga bisa berdampak pada aspek psikologis seseorang. Khususnya apabila orang tersebut tidak hanya harus membiayai orang tua mereka sendiri, tetapi juga orang tua dan keluarga pasangan.

Penyebab Munculnya Generasi Sandwich

Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan munculnya generasi ini. Berikut ini diantaranya:

1. Meningkatnya angka harapan hidup

Peningkatan angka harapan hidup (harapan hidup), di satu sisi memang bermakna bagus sebab itu artinya, kualitas hidup masyarakat relatif meningkat dan akses terhadap fasilitas kesehatan juga membaik. Namun di sisi lain semakin banyak masyarakat usia pensiun juga dapat menyebabkan masalah finansial bagi keluarga.

Hal ini karena tidak semua masyarakat usia pensiun memiliki asuransi kesehatan, sehingga keluarga harus menggunakan dana pribadi untuk membiayai masalah kesehatan orang tua mereka. Oleh karena itu, peningkatan usia harapan hidup dan fasilitas kesehatan sebaiknya juga diiringi dengan fasilitas asuransi yang memadai.

2. Budaya

Tidak dapat dipungkiri bahwasanya budaya mempengaruhi munculnya generasi sandwich. Budaya dapat memunculkan generasi ini melalui banyak hal, yaitu:

  1. Adanya anggapan bahwa anak adalah instrumen investasi hari tua untuk orang tuanya.
  2. Budaya Indonesia yang kurang menyetujui kalau anak meminta orang tua untuk tinggal di Panti Jompo atau dirawat oleh pengasuh.
  3. Budaya Indonesia yang seringkali menuntut anak untuk tinggal satu rumah atau lingkungan dengan orang tua.
  4. Budaya Indonesia yang menuntut anak sulung untuk membantu biaya hidup dan sekolah adik-adiknya.
  5. Adanya tuntutan untuk menikah dan punya anak di usia 20-30 tahun  serta masih banyak lainnya.

Tentu saja budaya seperti ini tidak sepenuhnya salah, akan tetapi hal ini membuat banyak orang terhimpit menjadi generasi sandwich.

3. Tidak semua orang tua memiliki dana pensiun

Indonesia adalah negara yang baru berubah dari negara miskin menjadi negara berkembang pada zaman orde baru. Maka dari itu, tidak heran jika generasi orang tua saat ini banyak yang tidak mempersiapkan dana pensiun atau asuransi. Sederhananya, jangankan asuransi dan dana pensiun, untuk makan saja dulu susah.

Akibatnya, ketika beranjak tua, mereka sangat bergantung pada pemberian dari anak. Ini akan semakin parah apabila mereka menganggap kalau anak adalah instrumen investasi yang harus membalas budi kepada orang tua mereka, baik dalam bentuk uang maupun bentuk yang lainnya.

Cara Memutus Rantai Generasi Sandwich

Anda adalah generasi sandwich dan tidak ingin anak Anda mengalami hal yang sama? Simak beberapa tips untuk memutus rantai generasi sandwich berikut ini:

1. Berbicara dengan keluarga

Salah satu budaya Indonesia yang dapat membantu Anda mengurangi beban sebagai generasi sandwich adalah budaya kolektivitas. Masih banyak masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di desa, yang tinggal di dalam lingkup keluarga besar. Tidak jarang adanya keluarga besar ini siap membantu mengatasi kesulitan dalam keluarga Anda, baik masalah finansial maupun non-finansial.

Selain keluarga besar, Anda juga bisa berdiskusi dengan adik atau kakak mengenai pembagian beban untuk membantu orang tua. Tentunya sebagai anak yang baik, setiap anak ingin membantu orang tua semampu mereka. Maka dari itu, bagi beban Anda dengan saudara-saudara Anda.

2. Alokasikan dana khusus untuk orang tua

Supaya membantu orang tua lebih mudah, Anda bisa mengalokasikan sebagian gaji atau pendapatan Anda untuk diberikan kepada orang tua, tentunya dengan rasio yang tetap. Uang ini tidak harus diberikan secara tunai. Anda juga bisa memberikannya dalam bentuk premi asuransi atau barang kebutuhan sehari-hari.

3. Siapkan dana pensiun untuk diri Anda sendiri

Anda ingin memutus rantai generasi sandwich? Maka langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah menyiapkan dana pensiun untuk diri Anda sendiri. Untuk menyiapkan hal ini, Anda bisa hanya menabung atau berinvestasi sebesar Rp100.000 setiap bulannya. Tidak masalah jika nominalnya tidak terlalu besar, namun yang penting adalah Anda melakukannya secara konsisten.

4. Jangan lupa asuransi

Selain dana pensiun, Anda sebaiknya juga menyiapkan asuransi kesehatan atau dan asuransi hari tua sejak dini. Hampir mirip dengan dana pensiun, asuransi digunakan untuk meringankan beban Anda di masa tua nanti, khususnya menyangkut masalah kesehatan.

Bedanya terletak pada mekanismenya. Asuransi hanya bisa diklaim untuk memenuhi kebutuhan tertentu saja namun nominal klaimnya bisa lebih besar dibandingkan dengan total premi yang telah dikumpulkan. Hal ini tentu berbeda dengan dana pensiun yang bisa Anda gunakan untuk apa saja.

5. Jaga kesehatan

Sederhananya, dengan memiliki kesehatan yang baik hingga hari tua, anak Anda tidak perlu mengeluarkan dana banyak untuk membantu mengatasi permasalahan yang Anda hadapi. Bahkan, bukan tidak mungkin Anda masih bisa mencari uang sendiri meskipun sudah melewati usia pensiun.

Selain itu, dengan menjaga kesehatan sebaik mungkin sejak dini, Anda juga bisa menggunakan dana pensiun yang telah Anda kumpulkan sebelumnya untuk keperluan lain selain kesehatan. Misalnya, untuk membangun rumah kost dan rumah kontrakan untuk pendapatan pasifmembangun kolam lele sebagai cara untuk mengisi waktu luang dan masih banyak lainnya.

Terkadang, tidak memiliki pekerjaan atau kegiatan yang berarti juga bisa menjadi beban tersendiri bagi orang yang sudah pensiun. Apalagi jika hal ini ditambah dengan masalah kesehatan. Maka dari itu, tidak ada salahnya jika Anda menjaga kesehatan sejak dini.

[ad_2]

Berita Terkait

Pajak Bangunan Jadi Andalan PAD, Digitalisasi Jadi Penentu Kunci
Galeri Foto Pers Efektif Tingkatkan Kredibilitas Dan Kepercayaan Publik
CSA Index Agustus 2025 Jadi Bukti Kepercayaan Pasar yang Kembali Stabil
Hillcon Equity Divestasi Premium, Porsi Kepemilikan Tetap Kuasai Mayoritas
Diplomasi Tarif RI-AS: Dari Penurunan 19 Persen ke Peluang Pasar Lebih Luas
Keluar dari Bayang-Bayang Singapura, Pemerintah Indonesia Ambil Langkah Besar Soal Importasi BBM
Lonjakan CSA Index Jadi Penanda Kuat Keyakinan Investor atas Fondasi Ekonomi RI
Jangan Hanya Bersandar kepada Kekuatan Ekonomi Eksternal, Danantara Hadir di Waktu yang s Tepat

Berita Terkait

Rabu, 27 Agustus 2025 - 06:47 WIB

Pajak Bangunan Jadi Andalan PAD, Digitalisasi Jadi Penentu Kunci

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:08 WIB

Galeri Foto Pers Efektif Tingkatkan Kredibilitas Dan Kepercayaan Publik

Selasa, 12 Agustus 2025 - 14:14 WIB

CSA Index Agustus 2025 Jadi Bukti Kepercayaan Pasar yang Kembali Stabil

Selasa, 12 Agustus 2025 - 11:03 WIB

Hillcon Equity Divestasi Premium, Porsi Kepemilikan Tetap Kuasai Mayoritas

Sabtu, 9 Agustus 2025 - 07:59 WIB

Diplomasi Tarif RI-AS: Dari Penurunan 19 Persen ke Peluang Pasar Lebih Luas

Berita Terbaru