Cara Menghitung Harga Jual Per Unit dan Rumusnya

- Pewarta

Selasa, 20 Desember 2022 - 11:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

[ad_1]

Setiap bisnis tentu ingin mendapatkan keuntungan yang maksimum. Namun, keuntungan maksimum tersebut tidak akan Anda peroleh jika Anda tidak menentukan harga jual yang pas. Sebab, keuntungan (profit) adalah hasil pengurangan antara nilai ini dan harga beli atau biaya.

Lantas, bagaimana cara mencari harga jual per unit dan bagaimana rumusnya?

Pengertian Harga Jual Per Unit

Harga jual per unit (harga per unit) adalah nilai uang yang Anda bebankan kepada pembeli untuk membeli produk Anda. Secara sederhana, nilai ini bisa diperoleh dengan cara menambahkan biaya per unit (biaya per unit) dengan jumlah keuntungan per unit yang ingin Anda dapatkan.

Namun pada kenyataannya, menentukan harga jual per unit seringkali tidak bisa semudah itu. Terdapat beberapa faktor yang harus Anda pertimbangkan, diantaranya:

  1. Biaya per unit. Biaya per unit adalah nominal uang yang harus Anda korbankan untuk memproduksi 1 unit barang. Sederhananya, nilai biaya ini dapat Anda peroleh dengan menambah biaya operasional dan non operasional lalu membaginya dengan jumlah barang yang Anda produksi. Biaya operasional di sini bisa dihitung menggunakan harga pokok penjualan (HPP) atau metode lainnya, sementara biaya non operasional bisa termasuk pajak dan depresiasi.
  2. Harga barang serupa dari pesaing. Pada kategori barang-barang tertentu, selisih harga sedikit saja bisa membuat pelanggan berpaling dari produk Anda ke produk dari pesaing. Hal ini tentu akan berat jika Anda masih baru mau masuk industri terkait atau menerbitkan barang terkait sebagai variasi produk.
  3. Strategi penetapan harga. Harga jual juga bisa menjadi instrumen marketing yang menarik. Besaran nilai ini bisa diubah sesuai dengan musim (peak season), potensi diskon, psikologi harga dan lain sebagainya. Banyak pihak yang memahami bahwasanya penurunan harga akan membuat permintaan semakin banyak. Secara teoritis anggapan ini benar, namun tak jarang konsumen justru memandang harga yang terlalu murah sebagai gambaran kualitas barang yang “murahan”.
  4. Kebijakan pemerintah. Ada beberapa kebijakan pemerintah yang dapat mempengaruhi harga jual, seperti pajak, harga eceran tertinggi (HET)atau harga eceran maksimum dan lain sebagainya. Sebagai warga negara yang baik, tentunya sudah menjadi kewajiban Anda untuk memenuhi peraturan-peraturan pemerintah tersebut.
  5. Keuntungan yang ingin Anda peroleh. Dalam skena bisnis tradisional, mendapatkan keuntungan adalah faktor yang ingin dituju. Hal ini karena, keuntungan atau profit tidak hanya berperan sebagai hasil dan reward, tetapi juga mengindikasikan adanya sumber daya tambahan yang bisa digunakan oleh perusahaan untuk berinvestasi, sehingga bisnis perusahaan tersebut bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama.

Rumus Harga Jual Per Unit

Berikut ini beberapa rumus untuk mencari harga jual per unit:

1. Harga Markup

Pada metode ini, Anda menentukan nominal keuntungan yang akan Anda peroleh pada setiap produk yang terjual. Rumusnya adalah:

Harga per unit = Total biaya per unit + keuntungan per unit

Atau

Harga per unit = (Total biaya+ total keuntungan) / jumlah unit yang diproduksi

Misalnya, Anda adalah UMKM yang bergerak di bidang pembuatan kue catering pesanan. Suatu hari, Anda mendapatkan pesanan kue lapis legit untuk 200 orang tamu. Total biaya produksi yang Anda butuhkan, mulai dari tepung, gula, telur dan lain sebagainya adalah Rp150.000. Karena membutuhkan proses yang cukup lama dan melelahkan, Anda lantas menerapkan keuntungan Rp100.000. Maka, harga per unit kue lapis legit tersebut adalah:

Harga per unit = (Total biaya+ total keuntungan)/ jumlah unit yang diproduksi

Harga jual per unit = (150.000+ 100.000)/200

= 250.000/200

= 1.250.

Besaran nilai tersebut tentu akan berubah jika Anda menerapkan diskon harga.

2. Penetapan harga margin

Mencari harga jual per unit dengan metode margin pricing memiliki konsep yang mirip dengan markup pricing. Bedanya adalah, besaran keuntungan yang diinginkan berbentuk persentase dari besarnya biaya yang dikeluarkan. Oleh karena itu, rumusnya adalah:

Harga per unit = Total biaya per unit + (%keuntungan* biaya per unit)

Misalnya, Anda memiliki pekerjaan sampingan sebagai tenaga sopir lepas di perusahaan sewa mobil milik rekan Anda dengan perjanjian, Anda akan mendapatkan upah sebesar 15% dari total uang sewa mobil dan bensin. Suatu ketika, rekan Anda mendapatkan pesanan sewa mobil Avanza untuk perjalanan dari Yogyakarta ke Wonosobo.

Dengan rincian biaya sewa mobil sebesar Rp350.000, biaya bensin sebesar Rp65.000, dan keuntungan untuk Anda sebesar 15%, maka harga sewa per unit mobil tersebut, adalah:

Harga per unit = (350.000+65.000) + (15%* (350.000+65.000))

= 415.000 + (15% *415.000)

= 415.000 + 62.250

= Rp477.250

3. Harga Eceran yang Disarankan Pabrikan (MSRP)

Konteks dalam metode penentuan harga jual yang satu ini adalah, Anda bekerja sebagai retailer sebuah produk dan Anda bekerjasama dengan produsen produk tersebut. Agar harga antar retailer mirip, sehingga tidak menimbulkan persaingan tidak sehat satu sama lain, produsen produk tersebut menetapkan harga patokan (MSRP).

Retailer dapat menjual barang tersebut di atas harga MSRP atau di bawah harga tersebut sesuai dengan kondisi di lapangan. Misalnya, jika permintaan sedang ramai, harga dinaikkan. Begitu pula jika barang sudah menumpuk di gudang, harga akan diturunkan supaya cepat laku.

Dalam menentukan harga MSRP ini, produsen produk tersebut sudah menghitung rata-rata keuntungan yang umumnya diperoleh retailer. Bisnis yang kemungkinan mendapatkan metode penentuan harga ini misalnya, bisnis reseller atau dropship baju atau bisnis jual beli handphone dan aksesorisnya. Dalam hal ini, produsen baju yang bekerjasama dengan Anda, akan menentukan harga MSRP supaya Anda tidak bersaing secara tidak sehat dengan dropshipper lainnya.

Mengapa Penting Mengetahui Harga Jual Per Unit?

Tidak dapat dipungkiri bahwasanya bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, faktor harga sebuah produk masih memegang peranan penting untuk menentukan keputusan apakah konsumen akan membeli produk tersebut atau tidak. Harga jual harus ditentukan dengan baik, supaya tidak terkesan terlalu murah sehingga konsumen berpikir kualitasnya murahan dan tidak terlalu mahal supaya pelanggan tetap membeli produk tersebut.

Selain itu, nilai ini juga berpengaruh secara langsung terhadap besaran keuntungan per unit dan bisa berpengaruh terhadap total keuntungan yang diperoleh perusahaan. Harga jual yang terlalu tinggi bisa menghasilkan keuntungan total yang semakin tinggi (jika permintaannya tinggi pula) atau bisa menghasilkan penurunan keuntungan total jika tidak disertai dengan peningkatan permintaan.

Harga jual tidak hanya sekedar harga beli ditambah dengan keuntungan. Harga jual juga terkait dengan pemasaran, persaingan dan keberlanjutan perusahaan.

[ad_2]

Berita Terkait

Subsidi Harusnya Ringankan Beban Rakyat, Puan Maharani Tanggapi Kenaikan Harga Minyak Goreng Subsidi
Mentan – Wamentan Kompak Wujudkan Indonesia Swasembada Pangan untuk Perkuat Ketahanan Pangan
Soal Isu Pembatalan Merger PT Bank MNC International Tbk dengan PT Bank Nationalnobu Tbk, Ini Tanggapan OJK
Mendag Ungkap Alasan Kenakan Bea Masuk Komoditas Impor dari Berbagai Negara, Termasuk Tiongkok
NS. Aji Martono: DPW PROPAMI Jambi Raya Akan Perkuat Literasi dan Edukasi Pasar Modal
Ketua Propami: Fondasi Ekonomi Kuat Bisa Mendorong IHSG Terus Positif Meski Optimisme Pasar Masih Terkendali
LSP Perikanan Hias Indonesia Resmi Terbentuk: Meningkatkan Kualitas dan Kompetensi SDM untuk Daya Saing Global
Prakonvensi RSKKNI Pembiayaan: OJK Bahas Pentingnya Standar Kompetensi di Sektor Keuangan
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.