BISNIS POST – Seiring berjalannya waktu, penggunaan e-money pun semakin marak dan jadi opsi pembayaran lain selain uang cash.

Harus diakui, keberadaan e-money pun jadi solusi bagi sebagian orang yang membutuhkan alat bayar modern nan praktis.

Sayangnya, meski variasi produk e-money sudah marak muncul dari berbagai perusahaan seperti OVO, Shopeepay, DANA atau Gopay, tetapi masih banyak yang belum tahu cara top up e-money. Itulah kenapa masih banyak orang yang memilih bertahan dengan penggunaan uang kertas.

Ekspor Pertanian Terus Menanjak, Target Nilai Ekspor Sebesar Rp681 Triliun Bisa Tercapai

Akan Impor Beras Lagi, Asosiasi Pangan Jatim Minta Pemerintah Evaluasi Kebijakan Impor Beras

Sebenarnya, mana yang lebih unggul: E-money atau Uang Kertas, ya? Simak ulasannya berikut ini.

  1. Kepraktisan

Dilihat dari segi kepraktisan, e-money jelas lebih ringkas karena tidak dibuat dalam bentuk fisik alias hanya digital. Pengguna pun jelas tidak perlu membawa banyak yang untuk berbelanja.

Ada banyak merchant yang menerima pembayaran dari e-money sehingga kebiasaan bayar dengan uang kertas pun juga semakin tergeser. Biasanya, kasir hanya meminta pembeli untuk menempelkan e-money pada bagian scan barcode agar transaksi pembayaran berhasil.

Dengan Dukungan Komunitas internasional, Sampah Akhiri Oligarki Batubara

Para pembantu Presiden Jokowi Harus Ngeh, Bersih Itu Harus dari Uangnya, Baru Cara Mengelolanya

Tak hanya itu, e-money dinilai lebih hemat waktu karena pengguna tidak perlu antri di ATM hanya untuk mengambil uang kertas.

  1. Keamanan

Kehadiran e-money sebagai alat pembayaran di Indonesia dinilai mampu melawan peredaran uang palsu. Ini karena masyarakat jadi lebih terbiasa menggunakan uang digital.

Akan tetapi, ternyata e-money pun tidak luput dari potensi penipuan lainnya. Misalkan saja, pembobolan akun yang tersambung dengan website phising. Selain itu, ada juga penipuan top up e-money di agen top-up abal-abal.

Bukan Hanya BUMN, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati Juga Bisa Belajar dari PLN

Menkeu Ibaratkan APBN Seperti Shock Arsober, Lindungi Rakyat dari Jalan Gronjal-gronjal

Nah, agar Anda terhindar dari situasi semacam ini, bisa coba top up e-money di agen terpercaya, seperti misalkan di Blibli. Ada banyak layanan top up dengan nominal kecil hingga besar, biaya admin termurah!

Sementara itu, uang kertas punya level keamanan lebih rendah dibandingkan e-money. Membawa uang kertas kemana-mana dapat memancing pencuri bertindak jahat.

Bagi Anda yang menyimpan uang kertas dalam jumlah banyak, disarankan memiliki brankas untuk menyimpannya. Tentunya Anda perlu merogoh kocek sekian ratus ribu hingga jutaan untuk membeli brankas saja.

Harga Bahan Pokok Melambung, Operasi Pasar Bisa Jadi Solusi Ringankan Beban Masyarakat

Terlilit Utang Tinggi, Fraksi Nasdem DPR RI Tawarkan Tiga Opsi untuk menyelamatkan PT Garuda

  1. Fleksibilitas

E-money dipercaya sangat fleksibel karena merchant saat ini rata-rata sudah menerima pembayaran dengan dompet digital. Supermarket, Mall, Pom dan Warung pun sudah menerima e-money sehingga Anda tidak perlu bingung mencari tempat mana yang bisa menerima alat pembayaran ini.

Uang kertas sendiri juga lumayan fleksibel karena masih sangat bisa diterima di warung-warung atau supermarket. Hanya saja, bagi toko online yang tidak menyediakan toko fisik, akan kesusahan menerima uang kertas dan memilih e-money.

Di perkampungan yang masih belum terjamah modernisasi, kehadiran uang kertas tetap dibutuhkan sebagai alat pembayaran yang sah. Lagi pula, lansia yang belum mengenal kecanggihan teknologi modern pun jelas masih membutuhkan uang kertas sebagai alat transaksi.

Pasar tradisional yang belum menerapkan pembayaran modern dengan e-money pun sangat memerlukan uang kertas sebagai alat tukar pembayaran yang sah.

  1. Promo

Guna mendukung pertumbuhan pengguna e-money, banyak perusahaan yang memberikan promo, mulai dari potongan diskon atau pemberian voucher makan dan belanja di beberapa merchant.

Nah, tentunya promo semacam ini tidak akan Anda dapatkan bila Anda menggunakan uang kertas sebagai alat transaksi.

Ini merupakan hal positif bagi customer. Promo-promo seperti makan gratis, free bottle atau potongan diskon setiap transaksi minimal sekian ratus ribu dapat memberikan efek baik dalam hal penghematan uang.

Hanya saja, hal ini pun tetap tergantung bagaimana kondisi setiap orang. Ada juga yang tetap boros ketika mendapatkan promo dan potongan diskon. Kalau, Anda tim yang tetap boros saat ada promo atau justru makin hemat?

  1. Dampak Terhadap Lingkungan

Jelas saja, e-money memberikan dampak yang baik bagi lingkungan. Semakin berkurangnya penggunaan uang kertas dapat membuat kayu hutan lebih tumbuh lama karena berkurangnya kebutuhan akan uang kertas.

Nah, berkurangnya produksi uang kertas dapat membuat limbah kayu berkurang. Jelas ini adalah hal yang bagus bagi lingkungan.

Meski begitu, kita tidak akan pernah tahu kapan kiranya seluruh dunia berhenti menggunakan uang kertas dan beralih ke e-money sepenuhnya. Uang kertas jelas masih dibutuhkan oleh beberapa orang hingga saat ini.

  1. Godaan

Bicara masalah godaan dalam hal berhemat, tentu saja uang kertas lebih unggul dibandingkan e-money. Saat memegang uang kertas, Anda jadi tahu berapa limit yang bisa Anda pakai untuk beberapa hari. Anda jadi kurang termotivasi berbelanja saat melihat kenyataan bahwa ATM jauh dari rumah.

Bila Anda menggunakan e-money dan menginstall i-Banking maupun aplikasi e-commerce, jelas Anda jadi punya kesempatan untuk berbelanja sesuka hati kapanpun Anda mau.

Tentunya hal ini tidak selalu pasti, mengingat sikap dan kondisi setiap orang berbeda. Ada juga yang masih saja boros meskipun sudah memegang uang cash dan jarang mengisi saldo e-money.

Setelah membaca ulasan yang ada di atas, sekarang Anda bisa menyimpulkan sendiri, mana yang lebih oke antara e-money atau uang kertas. Well, meski ada banyak kelebihan yang dimiliki, e-money jelas punya berbagai kekurangan juga. Bagaimana dengan Anda? pilih uang kertas atau e-money?***