LINGKARIN.COM – Terjadi pelemahan fondasi ekonomi nasional yang semakin lama semakin buruk. Hasilnya ekonomi memang tumbuh tetapi kerdil.

PDB akan terus melambat dan sampai 2024 mendatang sepertinya akan serupa saja.

Sementara para calon presiden saat ini belum kunjung menawarkan akan membawa Indonesia seperti apa.

Jaringan Portal Berita Fokus Siber Media Network Mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru 2023

Malam Pergantian Tahun Baru 2023, KRL Tambah Sebanyak 28 Perjalanan Semua Jurusan

Di bawah ini adalah 5 artikel yang disarikan dari Diskusi Publik Awal Tahun 2023 INDEF “Catatan Awal Tahun 2023 dari Ekonom Senior INDEF”, sebagai berikut:

1. Demokrasi Politik di Era Reformasi Berjalan Sayangnya Oligarki Ekonomi Mengendalikan Politik – Prof Dr Didin S Damanhuri

Antisipasi Arus Balik Natal 2022, Jasa Marga Fungsionalkan Jalan Tol Jakarta – Cikampek II

Libur Natal 2022 dan Tahun Baru 2023, Mitsubishi Siapkan 7 Posko Siaga

2. Utang Belasan Ribu Triliun Rupiah Diwariskan Kepada Pemimpin Indonesia yang akan Datang – Prof Dr Didik J Rachbini

3. Ekspor Meningkat Lebih Cepat dari Impor, Masalahnya Mengapa Rupiah Tetap Melemah? – Dr Faisal H Basri

4. IMF Ramalkan 2023 Sepertiga Negara di Dunia akan Alami Resesi Ekonomi – Dr. M. Fadhil Hasan

5. Ancaman Krisis Pangan di Dalam Negeri pada 2023 Jauh Lebih Besar, Apalagi Jika Produktivitas Rendah – Dr M. Nawir MessiTerakhir, rata-rata pendapatan negara melandai dibandingkan negara-negara tetangga yang pada awal pembangunannya berada pada titik yang hampir sama dengan Indonesia dulu.

7 Tantangan Besar Indonesia 2023: Ketimpangan Sosial dan Kemiskinan

Pembagian Dana Bagi Hasil Produksi Minyak Harus Adil, Kemenkeu Dikritik Tak Punya Empati

Seperti Korea, China, Malaysia, Thailand. Sementara Vietnam dan Filiphina sebentar lagi akan menyusul Indonesia.Sektor penghasil barang, memang sudah pulih dari covid 19 dan PDB pada 2022 mencapai 5,4 % lebih tinggi dari sebelum covid. Tetapi, stukturnya timpang sekali.

Yang pulih adalah sektor jasa 7% – 11%, sementara sebagian besar rakyat Indonesia masih bertumpu pada sektor pengahasil barang.

Sektor jasa hanya menopang sektor barang. seperti jasa transportasi dari hasil pertanian dan lain-lain.Pemulihan ekonomi yang terjadi luar biasa timpang, antara sektor jasa dengan sektor barang. Ada rongga yang kian melebar dari keduanya.

Musim Tanam hingga Maret 2023, PT Pupuk Sriwidjaja Palembang Jamin Stok Pupuk Tersedia

Menteri Basuki Hadimuljono Siap Beri Karpet Lebih Merah ke Investor Malaysia di IKN

Struktur ekonomi politik membuat kegiatan instan lebih utama karena medapat uang lebih mudah, cryptocurrency. dll. yang jauh dari dunia rakyat nyata.

Petumbuhan Industri manufaktur mengalami pertumbuhan yang praktis selalu lebih rendah dari PDB.

Jadi mengalami pelambatan sebelum mencapai titik optimum, dibandingkan negara lain.

Nikmati Rejeki di Masa Pandemi, Pengamat: Anggaran Puluhan Triliun Kenapa Ruangguru Bisa PHK?

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida Hadiri KTT G20 Indonesia,Tiba di Bali Senin Dini Hari

Pertumbuhan industi kita merosot tajam sehingga hanya 18,3%. Sebentar lagi disalib Vietnam, tetapi jauh tertinggal dari China, Thailand dam Malaysia.Padahal, kalau sektor industri lemah maka kelas menengah juga kana lemah – buruh formal sedikit.

Akibatnya, karena struktur manufaktur lemah maka yang bisa dijual keluar juga terbatas produk manufakturnya.

Tidak heran, jika kita menjadi semakin terus bergantung pada ekspor komoditas yang hanya butuh daya tenaga fisik, dan bukan kerja otak untuk meningkatkan produktivitas.PDB dan pertumbuhan industri yang melambat sangat dipengaruhi oleh unsur teknologi/IT.

Wamendag Jerry Sambuaga Nyatakan Indonesia Siap Hadapi Resesi Ekonomi Dunia

Garuda Indonesia Resmi Operasikan Kembali Rute Narita Tokyo – Denpasar Pulang Pergi

Total Faktor Productivity Indonesia mandeg dan turun tajam. Tiga perempat sumbangan pertumbuhan dikontribusi oleh modal fisik atau produksi komoditas.

Faktor dalam pertumbuhan yang menggunakan kerja otak dipengaruhi oleh:

1. Teknologi dan Inovasi.2. Kondisi Pasar dan Ekonomi,3. Culture and Society.

Jika Tak Segera Antisipasi, Indonesia Bisa Terdampak Parah Resesi Ekonomi Dunia

Akibat Kenaikan BI Rate, Masyarakat Kelas Bawah Semakin Sulit Ajukan Kredit Rumah

Pada ketiga faktor tersebut, Indonesia terus mengalami penurunan.

Hal penggunaan modal otot/fisik Indonesia hanya sebanding dengan negara-negara Laos, Myamar, Bhutan, Bangladesh, Fiji dan Brunei yang 71 % produktivitas nya hanya mengandalkan kerja otot/fisik.Di Indonesia ekspor meningkat lebih cepat dari impor. tetapi mengapa rupiah tetap melemah?

Karena ekspor dilakukan oleh sektor komoditas dan bukan oleh kemampuan pertumbuhan ekspror dari industri yang merata. 

Bahas Prospek Ekonomi Global, Sri Mulyani Bertemu dengan Wakil Presiden Bank Dunia

Krisis Kepercayaan Masyarakat Gambarkan Keraguan terhadap Tata Kelola Perusahaan Asuransi

Pada 2022, 77 % ekspor batubara dilakukan oleh segelintir grup-grup usaha yang hasil ekspornya tidak dimasukkan ke dalam negeri dan memperkuat cadangan devisa

Tetapi memarkir dana hasil eksport di Luar negeri, sehingga rupiah tetap melemah.Pertumbuhan ekspor didominasi oleh:

1. CPO – 58%,

2. Besi dan Baja, dinikmati oleh hampir semua perusahaan smelter china untuk nikel.

3. Komoditas sawit dan batubara yang menyumbang 52% total ekspor komoditas.

Jadi hanya 3 komoditi itu.

Oleh: Dr Faisal Basri, Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

* Artikel disarikan dari Diskusi Publik Awal Tahun 2023 INDEF “Catatan Awal Tahun 2023 dari Ekonom Senior INDEF” Kamis, 5 Januari 2023.

** Diskusi publik menghadirkan para pembicara: Prof Dr Didin S Damanhuri, Prof Dr Didik J Rachbini, Dr. M.Fadhil Hasan, Dr Faisal H Basri, dan Dr M. Nawir Messi.***