Seperti yang telah umum diketahui bahwasanya dalam ekonomi mikroharga sebuah barang dan jasa ditentukan menggunakan mekanisme permintaan dan penawaran (permintaan persediaan). Ketika kurva supply dan demand berpotongan satu sama lain, maka disitulah harga dan jumlah barang yang diminta bertemu di pasar.

Secara sederhana, garis supply digambarkan miring ke kanan atas dan menunjukkan kalau semakin mahal sebuah barang, maka semakin banyak pula barang yang bisa diproduksi. Di sisi lain, garis demand digambarkan miring ke kanan bawah dan menunjukkan kalau penurunan harga akan membuat jumlah barang yang diminta naik.

Namun pada kenyataanya, fakta di dunia tidak bisa digambarkan dalam satu grafik saja. Dari sisi penawaran (supply), terdapat faktor-faktor x, seperti teknologi, modal dan prestige barang yang bisa mempengaruhi harga dan volume produksi. Selain faktor harga, ada beberapa hal lain yang bisa mempengaruhi jumlah permintaan barang. Apa saja hal tersebut, dan bagaimana mereka dapat mempengaruhi permintaan? Simak ulasan lengkapnya berikut:

Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Barang dan Jasa

Terdapat 5 hal yang mempengaruhi permintaan barang dan jasa, yaitu:

1. Harga barang dan jasa itu sendiri

Sederhananya, apabila harga barang dan jasa tersebut naik, jumlah permintaan Anda terhadap barang dan jasa tersebut akan menurun, begitu pula sebaliknya. Contohnya, biasanya dalam 1 minggu Anda mengkonsumsi 2 cup kopi seharga Rp.20.000 per cup. Namun, ketika harga naik menjadi Rp30.000 per cup, Anda hanya bisa menikmati 1 cup kopi seminggu.

2. Harga barang dan jasa lain yang berelasi

Hubungan antara satu barang dengan barang lain dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu:

Barang substitusi

Dua barang dikatakan merupakan barang substitusi apabila keduanya memiliki karakteristik yang mirip, digunakan untuk keperluan yang sama dan dijual di lokasi yang sama pula. Dengan demikian, apabila harga satu barang naik, pembeli dapat beralih ke barang substitusinya. Ini artinya, relasi antara barang yang bersubstitusi adalah kenaikan harga barang A akan meningkatkan permintaan barang B.

Contohnya adalah teh dan kopi. Kedua bahan minuman ini sama-sama digunakan untuk menghilangkan haus, sama-sama mengandung kafein dan bisa dibeli di supermarket. Ini artinya, kalau harga kopi naik, maka secara teoritis permintaan teh akan naik, sebab para penikmat kopi beralih membeli teh.

Dalam konteks pasar modal, contoh barang substitusi adalah antara saham dan obligasi. Keduanya sama-sama merupakan surat berharga, investor membelinya untuk mendapatkan passive income, dan keduanya dapat dibeli di Bursa Efek Indonesia. Dalam hal ini, banyak dipahami bahwasanya kalau kondisi ekonomi sedang baik, maka saham cenderung lebih banyak dibeli dibandingkan obligasi karena menawarkan keuntungan yang lebih tinggi. Akibatnya, harga obligasi turun dan permintaan saham akan naik.

Barang komplementer

Dua barang bisa disebut sebagai barang komplementer ketika keduanya saling melengkapi satu sama lain. Akibatnya, ketika permintaan barang A naik, maka permintaan barang B naik pula.

Contoh mudahnya adalah ketika bensin merupakan produk komplementer dari kendaraan bermotor. Ketika jumlah kendaraan bermotor di Indonesia naik, maka permintaan terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) naik juga.

Dalam konteks pasar modal, contoh dari barang komplementer adalah  suatu reksa dana dan jasa sebuah manajer investasi. Apabila permintaan terhadap suatu reksa dana naik, maka naik pula permintaan terhadap jasa manajer investasi penerbit reksa dana tersebut.

3. Penghasilan

Sebuah barang dan jasa dapat dikelompokkan menjadi tiga menurut reaksinya terhadap perubahan pendapatan konsumen, yaitu:

Normal goods/ barang normal

Barang normal adalah barang yang jumlah permintaannya akan naik kalau pendapatan konsumen naik. Tidak jarang, normal goods juga dinilai sebagai barang yang diperlukan. Ini artinya, meskipun permintaannya akan naik kalau pendapatan konsumen naik, tapi bisa jadi permintaannya tidak akan turun kalau pendapatan konsumen turun.

Contohnya adalah beras. Ketika pendapatan Anda naik, bisa jadi Anda akan membeli lebih banyak beras untuk persiapan di rumah. Namun karena beras dinilai sebagai kebutuhan, maka ketika pendapatan Anda turun, Anda tetap akan membeli beras untuk makan sehari-hari.

Inferior goods/ barang inferior

Inferior goods adalah barang yang permintaannya akan turun kalau pendapatan konsumen naik begitu pula sebaliknya. Contohnya adalah mie instan bagi anak kos. Ketika pendapatan anak kos naik entah itu karena uang kiriman dari orang tua sudah datang atau gaji part time sudah cair, anak kos akan beralih ke makanan yang lebih mahal dibandingkan mie instan, seperti nasi telur atau nasi rames. Sebaliknya, kalau uang dari orang tua sudah habis di akhir bulan, maka banyak anak kos yang membeli mie instan.

Luxury goods/ barang mewah

Luxury goods atau barang mewah adalah barang yang permintaannya akan naik seiring dengan peningkatan pendapatan konsumen, dan permintaannya akan turun seiring dengan penurunan pendapatan konsumen. Bahkan, tak jarang peningkatan permintaan barang mewah tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan pendapatan konsumen.

Contohnya adalah mobil. Misalnya, Anda naik pangkat dari staf menjadi supervisor dengan gaji naik Rp5.000.000 per bulannya. Dengan kenaikan gaji tersebut, Anda memberanikan diri untuk membeli mobil dengan cara kredit sebesar Rp7.000.000 per bulan mengingat bahwasanya kepemilikan mobil bisa menjadi prestige tersendiri untuk Anda dan keluarga Anda di rumah.

4. Nafsu makan

Meskipun bukan merupakan faktor yang dapat diprediksi nilainya, akan tetapi selera juga diperhitungkan sebagai faktor yang dapat mempengaruhi jumlah permintaan seseorang terhadap barang tertentu. Misalnya, meskipun harga kopi naik, namun Anda tetap membeli kopi dan tidak pindah ke teh, karena Anda tidak terlalu suka teh, begitu pula sebaliknya.

Contoh lainnya, saham menawarkan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan reksa dana dan kondisi ekonomi juga sedang membaik. Alih-alih membeli saham, Anda tetap menggunakan reksa dana sebagai instrumen investasi karena merasa lebih aman.

5. Harapan (Ekspektasi)

Sama seperti halnya dengan selera, ekspektasi atau harapan adalah hal yang tidak bisa diperkirakan dengan angka. Namun keduanya terbukti dapat mengubah permintaan seseorang terhadap sebuah barang atau jasa.

Misalnya, dengan harapan trend kenaikan harga saham akan berlangsung lama, investor A membeli saham B. Contoh lainnya, dengan ekspektasi ekonomi akan bagus dalam satu atau dua tahun ke depan, investor A beralih dari obligasi ke saham karena instrumen yang terakhir ini menawarkan keuntungan yang lebih tinggi. Akibatnya, permintaan saham meningkat, dan permintaan obligasi menurun. Dalam konteks individu, bisa jadi perubahan permintaan barang ini tidak terlalu kentara dan berefek. Namun, apabila perubahan permintaan ini terjadi secara agregat dalam ekonomi makromau tidak mau perubahannya akan semakin terasa.