Korban Tewas Akibat Gelombang Panas Meningkat di India

- Pewarta

Senin, 19 Juni 2023 - 19:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Hampir 170 orang tewas di dua negara bagian terpadat di India dalam beberapa hari terakhir di tengah gelombang panas yang terik, kata para pejabat, Senin (19/6). Sementara itu, rumah-rumah sakit dilaporkan kewalahan menampung pasien dan aliran listrik sering putus.

Di negara bagian utara Uttar Pradesh, 119 orang meninggal karena penyakit terkait panas selama beberapa hari terakhir sementara di negara bagian Bihar yang berdekatan 47 orang telah meninggal, menurut laporan berita lokal dan sejumlah pejabat kesehatan.

Rumah sakit terbesar di distrik Ballia di Uttar Pradesh tidak dapat menampung lebih banyak pasien, kata para pejabat, dan kamar mayatnya kewalahan setelah 54 orang meninggal karena panas. Beberapa keluarga diminta untuk membawa pulang jenazah kerabat mereka.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu, di wilayah-wilayah utara India yang terkenal dengan panas terik selama bulan-bulan musim panas, suhu secara konsisten di atas normal, menurut Departemen Meteorologi India. Suhu tertinggi dalam beberapa hari terakhir mencapai 43,5 derajat Celcius.

Gelombang panas dinyatakan di India jika suhu setidaknya 4,5 derajat Celcius di atas normal atau jika suhu di atas 45 derajat Celcius. “Kami telah mengeluarkan peringatan gelombang panas selama beberapa hari terakhir,” kata Atul Kumar Singh, seorang ilmuwan di Badan Metereologi India.

Meski sudah diperingatkan, para pejabat pemerintah tidak meminta warga bersiap menghadapi panas hingga Minggu, ketika jumlah korban tewas mulai meningkat.

Yang memperparah keadaan adalah aliran listrik kerap terputus karena konsumsi energi yang berlebihan sehingga membuat banyak orang tidak memiliki aliran air, kipas angin, atau AC.

Menteri Kepala Uttar Pradesh Yogi Adityanath mengatakan pemerintah mengambil langkah-langkah untuk memastikan pasokan listrik tidak terganggu di negara bagian itu. Ia mengimbau warga untuk bekerja sama dengan pemerintah dan menggunakan listrik secara bijak.

“Setiap desa dan setiap kota harus mendapat pasokan listrik yang cukup selama panas terik ini. Jika ada kesalahan yang terjadi, itu harus segera ditangani, ” katanya Jumat malam dalam sebuah pernyataan.

Di dalam rumah sakit distrik Ballia, suasana kacau mengingatkan pada pandemi virus corona. Para dokter kewalahan menangani banyak pasien yang membutuhkan perhatian medis yang mendesak. Koridor-koridor berbau pesing, sampah dan limbah medis, sementara dinding-dinding rumah sakit ternoda ludah daun sirih.

“Semua staf kami telah berada di sini selama tiga hari berturut-turut dan mereka kewalahan,” kata Dr. Aditya Singh, seorang petugas medis darurat.

Bangsal-bangsal di rumah sakit itu tidak memiliki AC yang berfungsi, dan unit pendingin yang dipasang tidak berfungsi dengan baik karena fluktuasi daya. Para petugas terlihat mengipasi pasien dengan buku dan menyeka keringat mereka untuk menjaga mereka tetap dingin.

Para pejabat di rumah sakit tersebut mengatakan kasus yang lebih parah sekarang dipindahkan ke rumah sakit di kota-kota besar terdekat seperti Varanasi dan lebih banyak dokter dan sumber daya medis dikirim ke rumah sakit itu untuk menangani krisis yang disebabkan oleh panas.

Di luar, warga Ballia mengatakan kepada AP bahwa mereka takut keluar rumah setelah tengah hari.

“Begitu banyak orang sekarat karena panas sehingga kami tidak punya waktu semenit pun untuk beristirahat. Pada hari Minggu, saya membawa 26 mayat,” kata Jitendra Kumar Yadav, seorang pengemudi mobil jenazah di kota Deoria, 110 kilometer dari Ballia, kepada AP.

Para pakar iklim mengatakan bahwa gelombang panas akan terus berlanjut dan India perlu mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk menghadapi konsekuensinya. Sebuah studi oleh World Weather Attribution, sebuah kelompok akademik yang meneliti sumber panas ekstrem, menemukan bahwa gelombang panas yang membakar pada bulan April yang melanda sebagian Asia Selatan setidaknya 30 kali lebih mungkin terjadi akibat perubahan iklim. [ab/lt]
[ad_2]

Berita Terkait

Melalui Penyelesaian Sengketa WTO, Tiongkok Ajukan Gugatan Terhadap Amerika Serikat Masalah Tarif
Bukan Konfrontasi, Tiongkok Siap Bekerja Sama dengan Pemerintahan Presiden AS Donald Trump
Tak Tersedia Lagi di App Store dan Google Play Store di AS, Penguman Resmi Aplikasi Asal Tiongkok Tiktok
Menlu RI Sugiono Lakukan Pertemuan Bilateral dengan Menlu Malaysia Mohamad Hasan, Ini yang Dibahas
Proyeksi Pertumbuhan Perekonomian Tiongkok pada 2024 dan 2025 Meningkat, Kata Goldman Sachs
Kerja Sama BNSP dan KBRI di Tokyo: Indonesia dan Jepang Optimalisasi Tenaga Kerja
Hong Kong Kurangi Partisipasi Masyarakat dalam Pemilu
Reuters akan Gugat Turki atas Larangan terhadap Artikel Mereka

Berita Terkait

Jumat, 11 April 2025 - 07:26 WIB

Melalui Penyelesaian Sengketa WTO, Tiongkok Ajukan Gugatan Terhadap Amerika Serikat Masalah Tarif

Selasa, 21 Januari 2025 - 11:12 WIB

Bukan Konfrontasi, Tiongkok Siap Bekerja Sama dengan Pemerintahan Presiden AS Donald Trump

Senin, 20 Januari 2025 - 11:17 WIB

Tak Tersedia Lagi di App Store dan Google Play Store di AS, Penguman Resmi Aplikasi Asal Tiongkok Tiktok

Senin, 20 Januari 2025 - 10:23 WIB

Menlu RI Sugiono Lakukan Pertemuan Bilateral dengan Menlu Malaysia Mohamad Hasan, Ini yang Dibahas

Selasa, 15 Oktober 2024 - 13:44 WIB

Proyeksi Pertumbuhan Perekonomian Tiongkok pada 2024 dan 2025 Meningkat, Kata Goldman Sachs

Berita Terbaru