Selain GDP, salah satu indikator ekonomi suatu negara yang sering diberitakan di berbagai media adalah pendapatan per kapita (GDP per capita). Baik GDP maupun GDP per capita sama-sama digunakan untuk menjadi indikator kesejahteraan masyarakat di sebuah negara. Apa itu pendapatan per kapita dan bagaimana contohnya? Simak ulasannya di bawah ini:

Pengertian Pendapatan Per Kapita

Pendapatan per kapita adalah pendapatan rata-rata orang yang tinggal di sebuah negara. Indikator ini digunakan untuk menjadi salah satu tolok ukur kesejahteraan masyarakat di sebuah negara dan menjadi salah satu tolok ukur apakah sebuah negara masuk ke dalam negara maju, berkembang, atau negara miskin.

Menurut data dari Bank Duniapada tahun 2021 GDP per capita masyarakat Indonesia berada pada level $12.000-an atau 4 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan indikator yang sama pada tahun 1990. Secara garis besar, hal ini dapat diinterpretasikan sebagai kenaikan taraf hidup masyarakat Indonesia secara keseluruhan selama 32 tahun kebelakang.

Adapun menurut data BPSpendapatan per kapita masyarakat Indonesia pada tahun 2021 adalah sebesar 62.236.440 per tahun (PDB saat ini) dan 40.775.880 (konstanta PDB). Menurut data tersebut, 5 provinsi dengan nilai income per capita tertinggi di Indonesia adalah DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Riau dan Kepulauan Riau. Adapun provinsi dengan tingkat GDP per capita terendah adalah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Sulawesi Barat dan Maluku.

Rumus Pendapatan Per Kapita

Secara umum, cara menghitung pendapatan per kapita cukup sederhana, yaitu membagi pendapatan nasional (GDP atau GNI) dengan jumlah penduduk negara tersebut. Namun hasil penghitungan pendapatan per kapita akan berbeda sesuai dengan jenis pendapatan nasional yang digunakan.

Data GDP per capita masyarakat Indonesia menurut Bank Dunia misalnya. Apabila menggunakan GDP konstan, maka hasilnya adalah $40.233 per orang, namun jika menggunakan GDP harga berlaku (current GDP), nilainya berubah menjadi $61.407. Adapun angka $12.000 di atas adalah GDP per capita masyarakat Indonesia setelah disesuaikan dengan paritas daya beli (PPP).

Fungsi Mengetahui Pendapatan Per Kapita

Meskipun bukan indikator satu-satunya yang digunakan untuk memperkirakan kondisi kesejahteraan masyarakat, namun adanya GDP per capita penting untuk:

  1. Memetakan daerah tertinggal. Adanya GDP per capita diharapkan dapat membantu pemerintah untuk mengidentifikasi daerah mana saja yang memiliki tingkat kesejahteraan yang kurang dan perlu dibantu. Pada data di atas misalnya, diketahui bahwasanya terdapat 5 provinsi di Indonesia dengan tingkat income per capita yang rendah.
  2. Pendapatan per kapita juga membantu memetakan keterjangkauan harga kebutuhan pokok di daerah tersebut. Income per capita juga dapat digunakan sebagai patokan keterjangkauan harga kebutuhan pokok, termasuk rumah di suatu daerah. Misalnya, pendapatan per kapita masyarakat D.I Yogyakarta adalah Rp40.000.000 setahun, maka tentunya harga rumah senilai 5 miliar rupiah terbilang tidak terjangkau untuk mayoritas masyarakat di daerah tersebut.
  3. Indikator potensi pembukaan bisnis. Sebuah perusahaan tentunya ingin membuka cabang di daerah yang memiliki banyak penduduk dan memiliki pendapatan per kapita yang tinggi. Sebab, itu artinya daya beli masyarakat setempat juga tinggi, sehingga potensi pendapatannya tinggi pula.

Klasifikasi Negara Berdasarkan Pendapatan Per Kapita

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, GDP per capita juga merupakan indikator yang digunakan oleh berbagai lembaga ekonomi internasional untuk membagi negara berdasarkan ekonominya. Menurut Liga Bangsa-Bangsanegara-negara di dunia dapat terbagi menjadi 4 kategori menurut GDP per capita-nya, yaitu:

1. Negara maju (negara berpenghasilan tinggi/negara maju)

Negara-negara yang masuk ke dalam kategori ini memiliki GDP per capita di atas d $12,615, contohnya seperti Australia, Belgia, Amerika Serikat dan lain sebagainya.

2. Negara berkembang (upper middle income countries)

Negara-negara yang masuk ke dalam kategori ini memiliki GDP per capita sekitar $4,086 dan $12,615, seperti  Thailand, Malaysia, Indonesia, China dan lain sebagainya.

3. Negara berkembang (lower middle income countries)

Negara-negara yang masuk ke dalam kategori ini memiliki GDP per capita sekitar $1,036 dan $4,085. Contohnya, seperti Bangladesh, Filipina, Papua Nugini dan lain sebagainya.

4. Negara miskin

Negara-negara yang masuk ke dalam kategori ini memiliki GDP per capita di bawah $1,036. Mayoritas negara yang termasuk ke dalam kategori ini adalah negara-negara Afrika Tengah, dan sebagian Asia. Contohnya, Afghanistan, Republik Afrika Tengah, Korea Utara, Zambia, Ethiopia dan lain sebagainya.

Keterbatasan Pendapatan Per Kapita

Pendapatan per kapita bisa jadi merupakan indikator yang banyak digunakan untuk menghitung kesejahteraan masyarakat di sebuah daerah. Namun hal ini bukan berarti indikator ini tidak memiliki kelemahan. Berikut ini beberapa keterbatasan indikator ini:

1. Tidak merefleksikan taraf hidup yang sebenarnya

Indikator ini belum memasukkan faktor ketimpangan dalam perhitungan. Misalnya, sebuah desa memiliki 1000 warga yang memiliki pendapatan tahunan sebesar Rp100.000.000 dan 9.000 warga berpendapatan tahunan sebesar Rp24.000.000. Maka, pendapatan per kapita desa tersebut adalah:

PDB per kapita = ((1.000 x 100.000.000)+(9.000 x 24.000.000))/(1.000+9.000) = Rp31.600.000.

2. Tidak menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat secara utuh

Tingkat kesejahteraan masyarakat tidak hanya diukur dari seberapa banyak uang yang bisa mereka peroleh dalam satu tahun, tetapi juga banyak hal, termasuk, kondisi perumahan, akses terhadap fasilitas pendidikan dan kesehatan, dan lain sebagainya.

3. Tidak menggambarkan daya beli masyarakat secara utuh

Income per capita masyarakat Indonesia naik 4 kali lipat (400%) lebih tinggi dibandingkan pada tahun 1990. Namun, pada saat yang bersamaan, harga barang-barang di negeri ini pada tahun 2022 dan 1990 tentunya juga tidak sama. Ini artinya, kenaikan pendapatan per kapita belum tentu menggambarkan kenaikan daya beli masyarakat karena adanya inflasi.

4. GDP per capita sebagai perbandingan ekonomi internasional

Penghitungan GDP per capita yang biasa saja tidak pas untuk dijadikan pembanding ekonomi antar negara. Sebab, setiap negara pasti memiliki biaya hidup yang berbeda karena satu dan lain hal. Misalnya, harga tiket bioskop di Indonesia pada weekend sebesar Rp50.000 atau sekitar $3,3. Uang sebesar $3,3 tidak bisa digunakan untuk membeli tiket bioskop di Amerika Serikat, meskipun fasilitasnya sama. Hal ini karena tiket bioskop di negeri tersebut dijual kurang lebih seharga $10 atau Rp150.000.  Maka dari itu, umumnya peneliti menggunakan indikator GDP per capita yang telah disesuaikan dengan paritas daya beli.

5. Bias data

Pada penghitungan pendapatan per kapita, anak-anak masuk kategori penghitungan meskipun mereka tidak mendapatkan uang sama sekali. Sebaliknya, uang orang kaya yang tidak digunakan untuk membeli apapun dan hanya diinvestasikan atau disimpan tidak dihitung.

Karena kelemahan-kelemahan inilah umumnya pendapatan per kapita hanya digunakan sebagai salah satu indikator kesejahteraan masyarakat. Bahkan ada beberapa negara berpendapatan tinggi namun tidak berhasil masuk kategori negara maju karena kekurangan pada indikator lainnya, seperti indeks pembangunan manusia (IPM), tingkat kemiskinan dan penganggurandan seterusnya.