Puluhan Stasiun Radio Berhenti Siaran di Afghanistan

- Pewarta

Selasa, 14 Februari 2023 - 06:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Kesulitan ekonomi dan pembatasan media setelah kembali berkuasanya Taliban di Afghanistan pada Agustus 2021 lalu telah memaksa sekitar 34% stasiun radio menutup operasi mereka di negara itu. Ini mebuat ratusan orang menganggur.

Persatuan Jurnalis Independen Afghanistan AIJU, pemantau media lokal yang berkantor di Kabul, merilis angka itu pada hari Senin (13/2) ketika memperingati Hari Radio Sedunia.

Presiden AIJU Hujatullah Mujadidi mengatakan kepada LINGKARIN.COM, ada 345 stasiun radio yang beroperasi di negara itu sebelum Taliban mengambil alih kekuasaan. Radio-radio itu, tambahnya, mempekerjakan hampir 5.000 orang, di mana 25% di antaranya adalah perempuan.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tetapi 117 stasiun radio telah berhenti mengudara karena masalah ekonomi, kata Mujahid seraya menambahkan bahwa 1.900 orang – yang lebih dari separuhnya adalah perempuan – kini kehilangan pekerjaan.

Meskipun demikian masih ada 228 stasiun radio yang tersisa, yang mempekerjakan lebih dari 1.800 orang, termasuk puluhan perempuan.

Sanksi-sanksi internasional terhadap para pemimpin Taliban dan penangguhan bantuan keuangan telah memperburuk masalah ekonomi di negara itu, yang sebagian besar bergantung pada bantuan kemanusiaan. Ini juga melipatgandakan tantangan yang dihadapi industri media Afghanistan.

Para pengecam mengatakan peningkatan sensor dan dugaan penganiayaan wartawan oleh Taliban telah sangat merusak kebebasan pers Afghanistan.

Misi Bantuan PBB di Afghanistan bulan November lalu melaporkan lebih dari 200 wartawan mengalami “penangkapan sewenang-wenang, perlakuan buruk, ancaman dan intimidasi” sejak Taliban kembali berkuasa. Sejak pertengahan 2021 lalu ratusan wartawan Afghanistan melarikan diri ke negara tetangga, Pakistan, atau ke negara-negara lain karena takut akan pembalasan terhadap laporan kritis mereka tentang serangan yang dilakukan Taliban sebelumnya.

Pengawas media global “Reporters Without Borders” mengatakan dalam tiga bulan pertama pengambilalihan Taliban pada pertengahan 2021, 43% media Afghanistan ditutup, dan 84% wartawan perempuan kehilangan pekerjaan.

Otoritas Taliban menolak tuduhan penganiayaan itu, dan menyalahkan penutupan stasiun-stasiun radio tersebut karena kurangnya dana. Pernyataan ini juga kembali dipertanyakan.

Taliban baru-baru ini memblokir akses ke situs Siaran Bahasa Pashto dan Dari Voice of Amerika LINGKARIN.COM, dan situs web Radio Azadi yang dijalankan jaringan saudara LINGKARIN.COM – Radio Free Europe/Radio Liberty. Pejabat-pejabat Taliban belum memberikan pernyataan terhadap tuduhan pemblokiran akses itu.

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid dalam sebuah acara di Kabul yang disiarkan televisi hari Minggu (12/2) mengatakan kantor-kantor media asing yang “hanya mempublikasikan berita-berita negatif” dan “tidak mencerminkan pencapaian Taliban” tidak akan diizinkan beroperasi. Ia tidak merinci lebih jauh. [em/ka]
[ad_2]

Berita Terkait

Melalui Penyelesaian Sengketa WTO, Tiongkok Ajukan Gugatan Terhadap Amerika Serikat Masalah Tarif
Bukan Konfrontasi, Tiongkok Siap Bekerja Sama dengan Pemerintahan Presiden AS Donald Trump
Tak Tersedia Lagi di App Store dan Google Play Store di AS, Penguman Resmi Aplikasi Asal Tiongkok Tiktok
Menlu RI Sugiono Lakukan Pertemuan Bilateral dengan Menlu Malaysia Mohamad Hasan, Ini yang Dibahas
Proyeksi Pertumbuhan Perekonomian Tiongkok pada 2024 dan 2025 Meningkat, Kata Goldman Sachs
Kerja Sama BNSP dan KBRI di Tokyo: Indonesia dan Jepang Optimalisasi Tenaga Kerja
Hong Kong Kurangi Partisipasi Masyarakat dalam Pemilu
Reuters akan Gugat Turki atas Larangan terhadap Artikel Mereka

Berita Terkait

Jumat, 11 April 2025 - 07:26 WIB

Melalui Penyelesaian Sengketa WTO, Tiongkok Ajukan Gugatan Terhadap Amerika Serikat Masalah Tarif

Selasa, 21 Januari 2025 - 11:12 WIB

Bukan Konfrontasi, Tiongkok Siap Bekerja Sama dengan Pemerintahan Presiden AS Donald Trump

Senin, 20 Januari 2025 - 11:17 WIB

Tak Tersedia Lagi di App Store dan Google Play Store di AS, Penguman Resmi Aplikasi Asal Tiongkok Tiktok

Senin, 20 Januari 2025 - 10:23 WIB

Menlu RI Sugiono Lakukan Pertemuan Bilateral dengan Menlu Malaysia Mohamad Hasan, Ini yang Dibahas

Selasa, 15 Oktober 2024 - 13:44 WIB

Proyeksi Pertumbuhan Perekonomian Tiongkok pada 2024 dan 2025 Meningkat, Kata Goldman Sachs

Berita Terbaru

Pers Rilis

Hainan: Etalase Kebijakan Pintu Terbuka Tiongkok

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:45 WIB