LINGKARIN.COM – Hidup di Indonesia semakin susah. Teknologi semakin maju tapi kebutuhan-kebutuhan mendasar semakin ribet.
Begitu pula berbagai kerumitan birokratif membuat masyarakat mengalami kesulitan.
Saat ini Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono berencana menerapkan Electronic Road Pricing (ERP) dimana penggunaan jalan tertentu akan dikenai tarif pembayaran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Terdakwa Sebut Tak Sepakat dengan Semua Keterangan Saksi di Sidang Pemalsuan Akta Otentik Pernyataan Luhut Binsar Pandjaitan Soal OTT Berpotensi Untungkan Koruptor
ERP ini bukan hal yang baru, Singapur menerapkan ERP sudah sejak tahun 1998.
Kebijakan ini sudah dipastikan akan banyak penentangan dari publik seperti yang terjadi di Hong Kong dimana proposal tentang skema ERP ini ditolak oleh masyarakat.
Kabarnya ERP ini berhasil mengurangi kemacetan di beberapa negara yang menerapkannya.
Dukung Upaya KPK, Sahroni Nilai Operasi Tangkap Tangan Cara Tercepat Ringkus Koruptor Siang Bolong di Madiun, Warga Dikejutkan Penemuan Mayat Mengambang di Sungai
Tapi apakah kondisinya sama seperti Jakarta atau Indonesia pada umumnya?
Kita lihat bagaimana Singapura yang masyarakatnya harus mengeluarkan biaya yang mahal untuk mendapatkan lisensi mengemudi (SIM).
Dari hal ini saja sudah sangat terurai bahwa pengguna kendaraan khususnya roda empat disana adalah masyarakat dengan penghasilan yang besar.
Kenalan di Facebook, Gadis Remaja di Megamendung Dikasih Obat dan Alami Pelecehan Seksual Ferry Irawan Seringkali Lakukan Kekerasan dalam Rumah Tangga Terhadap Venna Melinda
Belum lagi jumlah penduduk yang tidak begitu besar, yang tentunya penerapan ERP di Singapur akan lebih mudah dirasakan dampaknya.
Tentunya jika dibandingkan dengan kondisi Jakarta menjadi tidak Apple to Apple.
Di Indonesia khususnya di DKI Jakarta, pengguna kendaraan roda empat belum tentu masyarakat menengah ke atas yang jika ERP ini diterapkan akan mengganggu kehidupan perekonomiannya.
Jokowi Sampaikan Pesan Ini kepada Calon Presiden yang akan Teruskan Jabatan Presiden Ganjar Pranowo Angkat Bicara Soal Kejutan di HUT ke – 50 dan Pengumuman Capres oleh Megawati
Apalagi wilayah aktivitasnya berada di wilayah yang menerapkan ERP. Ini akan sangat memberatkan.
Rakyat harus berinvestasi membeli alat in-vehicle unit (IU) tempat kartu pintar dipergunakan.
Hal ini tentunya selain membebani masyarakat juga akan menyulitkan pengguna jalan yang berasal dari luar Jakarta yang ingin lewat.
Perihal Nama Capres yang akan Diusung oleh PDIP di Pemilu 2024, Hasto Kristiyanto Bilang Begini Presiden Jokowi Sambut Kunjungan Resmi PM Malaysia Anwar Ibrahim di Istana Bogor
Bagi masyarakat kelas atas tentunya program ini akan sangat menggembirakan.
Mereka akan lebih nyaman terhindar dari kemacetan dengan menggunakan jalan yang menggunakan skema ERP.
Bagi vendor pun tentunya akan menjadi proyek yang akan mendatangkan keuntungan.
Tapi bagaimana dengan masyarakat kelas bawah? mereka lagi-lagi akan terpinggirkan karena tidak mampu melewati jalan yang menerapkan skema ERP.
Padahal pada prinsipnya jalan itu milik rakyat, kenapa rakyat harus bayar?
Lagi-lagi akan ada kesan bahwa pemerintah DKI Jakarta lebih melayani kepentingan kalangan atas daripada masyarakat kelas bawah.
Sebetulnya masih ada cara lain jika ingin mengurai kemacetan.
Yang secara kongkrit sudah dilaksanakan oleh Jakarta adalah penerapan transportasi publik terintegrasi di DKI Jakarta kini sudah dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Pengguna jalan yang biasanya membawa kendaraan pribadi sudah banyak yang beralih ke transportasi publik karena kenyamanan dan efisiensi yang dirasakan oleh para penggunanya.
Jika ini dikembangkan lebih luas tentunya secara gradual dipastikan akan mengurangi tingkat kemacetan.
Akan ada transformasi dari penggunaan kendaraan pribadi beralih kepada penggunaan transportasi publik jika transportasi publik bisa lebih nyaman.
Dan menjangkau banyak titik strategis yang memudahkan masyarakat berkunjung ke berbagai penjuru Jakarta.
Jadi kebijakan penerapan ERP ini harus ditolak. Publik akan merasa semakin hari hidup di DKI Jakarta semakin sulit.
Hal ini akan menimbulkan keresahan dimasyarakat yang akan membuat citra pemerintah akan semakin buruk.
Oleh: Achmad Nur Hidayat (Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute).***














