LINGKARIN.COM – Terdakwa Samuel Purba dan Nurcholis dijatuhi hukuman 3 bulan dan 5 bulan penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Keduanya dinyatakan terbukti bersalah dalam perkara memasukan keterangan palsu kedalam akta otentik.
“Para terdakwa terbukti melakukan tindak pidana,” ucap ketua majelis hakim Abdul Kohar Adeng di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin, 30 Januari 2023.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kasus Mahasiswa UI Tewas Jadi Tersangka, Polda Metro Jaya Bentuk Tim Pencari Fakta
Lahan di Jalan Batu Tulis Dieksekusi, Lenny Gunart Hidayat: Keadilan Berpihak pada Kebenaran
Dalam putusannya majelis hakim menjatuhkan vonis 3 bulan penjara kepada terdakwa Samuel Purba.
“Karena sampai hari yang Samuel telah menjalani masa penahanan selama 3 bulan, kami perintahkan agar terdakwa segera dikeluarkan dari tahanan per hari ini,” demikian majelis hakim kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fredrick.
Ada Kaitan dengan Mahasiswi Cianjur Tewas Tertabrak, Kompol D Ditahan dalam Kasus Perselingkuhan
Tewaskan Mahasiswi di Cianjur, Polisi: Audi Bukan Rombongan, Masuk Iringan Tanpa Izin
Adapun untuk terdakwa Nurcholis majelis hakim menjatuhi hukuman 5 bulan penjara. Vonis 5 bulan Nurcholos dipotong masa tahanan yang telah dijalaninya.
Hingga putusan dibacakan, kata Adeng, terdakwa Nurcholis telah menjalani masa penahanan selama 4 bulan 26 hari.
Sehingga jika Jaksa tidak melakukan banding dalam hitungan 5 hari kedepan Nurcholis sudah bisa menghirup udara bebas.
“Itu intinya ya,” ujar Adeng saat membacakan putusannya.
Mahasiswa UI Tewas Kecelakaan Jadi Tersangka, DPR: Putusan yang Tak Adil dan Tak Wajar
Polisi Tangkap Pelaku Penganiayaan dan Pemerkosaan di Kantor Ekspedisi Jakbar
“Terlepas ini, baik terdakwa maupun jaksa punya hak yang sama. Kalau ada yang merasa tidak puas silahkan banding.”
“Silahkan dipikir-pikir.dulu apa yang mau diambil sikapnya ya,” ketuk ketua majelis hakim menutup persidangan.
Vonis yang dibacakan oleh ketua majelis hakim Abdul Kohar Adeng 6 bulan lebih ringan dari tuntutan Penuntut Umum yang menjatuhkan tuntutan 9 bulan penjara kepada Samuel Purba.
Kasus Mahasiswi Tewas di Cianjur, Kapolda Pastikan Kompol D Diproses Hukum Tanpa Pandang Bulu
Korban Wowon Cs yang Hilang Berada di Libya, Polisi: Masih Cari 1 TKW Lagi atas Nama Nene
Adapun kepada Nurcholis, majelis hakim menjatuhkan vonis 5 bulan penjara.
Putusan ini 4 bulan lebih ringan dari tuntutan Penuntut Umum yang menjatuhkan tuntutan 9 bulan penjara kepada terdakwa
Kronologi peristiwa
Sopir Mobil Mewah Ditetapkan Jadi Tersangka dalam Kasus Tabrak Lari Mahasiswi di Cianjur
Penabrak Mahasiswi Selvi di Cianjur Gunakan Pelat Nomor Palsu, Bukan dari Iring-iringan Polisi
Perbuatan pidana dalam kasus ini berawal dari permasalahan sengketa tanah antara saksi korban, Drs. Santosa Brata Djajab dengan saksi Samuel Purba (yang dilakukan penuntutan secara terpisah).
Yaitu sama-sama mengaku sebagai pembeli yang sah terhadap tanah milik Adat Girik No.C 343, Persil 21 Sill atas nama Miot Binti Miah seluas kurang lebih 30.810 m2 No.385, yang terletak di Kelurahan Cipayung, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.
Dalam sengketa tersebut dari putusan perdata pada Peradilan Tingkat Pertama, Banding, Kasasi dan PK (peninjauan kembali) semuanya dimenangkan oleh saksi korban Santosa.
Ribuan Perangkat Desa Gelar Aksi Demo, Polisi Berlakukan Pengalihan Lalin di Depan Gedung DPR RI
Kasus Pembunuhan Berantai Bekasi dan Cianjur, Polisi: 14 Saksi Sudah Diperiksa
Selaku penggugat dan tanah yang terletak di Kelurahan Cipayung, Kecamatan Cipayung, Kota Jakarta Timur adalah secara hukum sah dibeli oleh saksi korban Santosa Brata Djaja.
Karena kalah dalam perkara perdata, kemudian saksi Samuel Purba mengajak saksi korban Santosa untuk berdamai.
Selanjutnya, kedua belah pihak sepakat untuk berdamai dan dibuatlah Akta Perjanjian Perdamaian No 4 tanggal 01 September 2008, Akta Pernyataan No.157 tanggal 22 Oktober 2008 dan Akta Adendum No.49 tanggal 06 November 2008 yang dibuat dan ditandatangani di Kantor Notaris Buntario Tigris, SH.
Polisi Telusuri Motif Ekonomi dalam Kasus Pembunuhan Berantai, Aliran Dana Capai Rp1 Miliar
Samuel Purba dan Nurcholis, Terdakwa Pemalsuan Akta Otentik Dituntut 9 Bulan Penjara
Salah satu klausul dalam Akta Perjanjian tersebut disepakati pihak saksi Samuel wajib memberikan uang kompensasi sebesar Rp 4,5 miliar kepada saksi korban Santosa.
Tetapi beberapa tahun kemudian tanpa seijin dari saksi korban Santosa, pada tanggal 17 April 2012 dengan inisiatif sendiri saksi Samuel mendatangi terdakwa Bonardo Nasution selaku Notaris dan PPAT.
Yang juga merupakan temannya di City Walk Sudirman, untuk meminta atau menyuruh dibuatkan Akta Otentik berupa Akta Penyelesaian Kewajiban No. 5 tanggal 17 April 2012.
Kamaruddin Simanjuntak Minta Status Tersangka DPO Kliennya Dicabut Karena Korban Mafia Pengembang
Kasus Pemalsuan Akta Otentik, Terdakwa Nurcholis dan Samuel Purba Dapat Teguran Majelis Hakim
Akta Otentik tersebut dibuat tanpa sepengetahuan dan tanpa kehadiran dari saksi korban Santosa selaku pihak terkait yang wajib hadir dalam pembuatan Akta Otentik tersebut.
Karena saksi Samuel adalah teman baik terdakwa, maka pada saat itu terdakwa langsung membuat Akta otentik berupa Akta Penyelesaian Kewajiban No.5 tanggal 17 April 2012 tanpa dilengkapi dokumen-dokumen yang sah, dan tidak sesuai dengan SOP/prosedur yang berlaku dalam pembuatan suatu Akta Otentik.
Terdakwa juga sudah menyadari kalau isi dari Akta otentik yang dibuatnya tersebut tidak benar karena terdakwa tidak pernah sama sekali melakukan cek data, dan memverifikasi dokumen-dokumen atau menanyakan langsung.
Kepada saksi korban Santosa terkait kebenaran dari isi Akta otentik berupa Akta Penyelesaian Kewajiban No.5 tanggal 17 April 2012 sebagaimana yang diamanatkan atau disyaratkan dalam pasal 16 Ayat (1) huruf m Undang-undang No.2 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, yakni “kewajiban pembacaan Akta oleh Notaris dihadapan penghadap dan saksi”.
Adapun inti dari isi Akta Penyelesaian Kewajiban No. 5 tanggal 17 April 2012 yang dibuat oleh terdakwa tersebut adalah sebagai berikut:
Bahwa saksi korban Santosa telah menerima uang kompensasi dari saksi Samuel Purba dengan rincian:
1. Rp600 juta pada tanggal 06 November 2008
2. Rp1 miliar pada tanggal 08 Maret 2012 dengan giro Bank BCA No.385826.
3. Rp300 ratus juta telah diterima sebelum Akta ini dibuat.
4. Rp2 miliar dengan cek No.127156 tanggal 1 Mei 2012.
5. Rp600 ratus juta dengan cek No.127157 tanggal 01 Mei 2012
Bahwa ternyata Akta otentik berupa Akta Penyelesaian Kewajiban No. 5 tanggal 17 April 2012 tersebut adalah akal-akalan dari saksi Samuel Purba dengan terdakwa Bonardo Nasution yang mana isinya seolah-olah benar dengan fakta yang sebenarnya.
Padahal kenyataannya sampai saat ini saksi korban Santosa Brata Djaja tidak pernah menerima uang satu rupiah pun dari saksi Samuel Purba sebagaimana yang tertuang dalam Akta Penyelesaian Kewajiban tersebut.
Malahan Akta Penyelesaian Kewajiban No. 5 tanggal 17 April 2012 itu digunakan saksi Samuel Purba sebagai salah satu syarat untuk menjual tanah milik saksi Santosa, Girik No.C 343, Persil 21 SIII atas nama Miot Binti Miah seluas kurang lebih 30.810 m2 No 385, yang terletak di Kelurahan Cipayung Kecamatan Cipayung Jakarta Timur.
Tanah yang semula atas nama PT Bina Kualita Teknik itu dijual oleh saksi Samuel Purba kepada PT. Sumber Daya Nusaphala berdasarkan Akta Jual Beli No 30/2012 tanggal 20 Nopember 2012 dan terakhir dari PT. Sumber Daya Nusaphala telah mengalihkan haknya kepada PT Sayana Integra Properti berdasarkan Akta Jual Beli No 556/2014 tanggal 11 Desember 2014.
Dan, sampai sekarang saksi Santosa Brata Djaja tidak pernah menerima uang ganti rugi/kompensasi sebagaimana yang telah disepakati sebesar Rp 4,5 miliar.***














